Opini

Sebuah Esai untuk Rocky Gerung

KETIKA anda membuka konten tulisan ini, maka saya anggap anda sudah mengetahui tentang Rocky Gerung, atau setidaknya anda pernah mengetahui sedikit tentang Rocky Gerung, sehingga saya tidak perlu lagi menjelaskan di paragraf pertama ini tentang sosok pria yang sebelumnya pernah dipercaya sebagai seorang profesor itu.

Penulis: Redaktur Pelaksana Koran Banjar, Donny Irwan

Rocky Gerung, yang mungkin dikenal banyak pemirsa tv, netizen, hingga para youtube subcribers sebagai seorang yang luar biasa dengan kharisma tinggi saat dia berbicara, bagi saya tak lebih dari seorang akademisi dan seorang tv personality yang memiliki kelihaian dalam retorika bicaranya.

Tentu, hal ini saya tuliskan bukan sebagai perwakilan ekspresi saya mengidolakan Rocky Gerung, dan saya juga tidak membenci pria bertitel Sarjana Sastra dari Universitas Indonesia (UI), Jakarta itu. Tetapi hal ini saya tuliskan justru karena saya lebih tertarik melihat sebagian lawan debat Rocky dalam program acara tv yang sudah-sudah.

Mereka, sebagian lawan debat Rocky ini, ambil contoh saja misalnya dalam suatu tayangan di Indonesia Lawyers Club (ILC) tempo lalu, dalam debatnya, Ali Mochtar Ngabalin pernah menyebut Rocky adalah seorang yang memiliki kemampuan intelektual yang bagus.

Hal ini juga berlaku mirip dalam pengamatan saya pada sejumlah youtube subcribers di sejumlah channel youtube yang banyak menyadur tayangan tentang Rocky dari tv, yang mana saya pahami di situ, para youtube subcribers yang tidak membenci Rocky ini menilai Rocky sebagai seorang yang memang memiliki super intellectual.

Baik, saya sepakat Rocky mempunyai pemikiran intelektual yang tinggi, berwawasan luas, dan memang punya public speaking yang menurut saya patut diberi nilai di atas rata-tata. Tapi seorang pria Manado bernama Rocy Gerung ini bukan satu-satunya ada di Indonesia bung!

BACA JUGA  Adipura Hanya Dijadikan Sebagai Komoditas Politik

Jadi, “fenomena Rocky Gerung” yang katanya no party, no Rocky ini bagi saya adalah sebuah fenomena yang biasa saja.

Kenapa saya tuliskan demikian? Karena percayalah, akademisi seperti Rocky, janganpun di Universitas Indonesia, di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Kalsel saja, ada banyak akademisi-akademisi setangguh Rocky, bahkan para mahasiswa dari program S1nya pun tak sedikit sudah memiliki kemampuan berdebat sebaik Rocky.

Saya jadi teringat pesan dari seorang senior tingkat saya waktu saya baru-barunya sempat memakai almamater dulu. Namanya Arif Subhan (semoga dia selalu disehatkan), dia pernah menjabat sebagai Presiden Mahasiswa ULM periode 2011-2012, atau yang sekarang disebut sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Pesan ini dia sampaikan karena ada seorang dosen pengajar mata kuliah Pengantar Ilmu Filsafat di kampus kami, Pak Apri (semoga beliau juga selalu disehatkan), yang menurut Arif, ketika beliau mengajar filsafat, maka yang perlu didengar adalah ceramah materi kuliah beliau di awal dan di akhir saja.

“Di tengah jam perkuliahan, biar kamu tinggalkan tidur saja juga tak apa. Karena beliau (Pak Apri) ini, ketika mengajarkan mata kuliah filsafat, memang benar selayaknya seorang filsuf. Jadi kita akan sangat sulit memahami pemaparan beliau. Kiatnya, ketika pemaparan beliau di awal dan di akhir kita satukan, maka ceramah beliau akan lebih mudah kita pahami,” pesan Arif kepada saya.

BACA JUGA  Capai 10 Juta Subscribers, Ria Ricis Segera Umrahkan Penggemarnya

Awalnya saya tak percaya. Tapi setelah saya mengambil mata kuliah Pengantar Ilmu Filasafat dan ketemu Pak Apri, ternyata apa yang dipesankan senior saya itu benar adanya.

Semester berikutnya, di mata kuliah lanjutan, saya lanjutkan lagi dengan mata kuliah Filsafat Ilmu Politik, dosennya tetap Pak Apri. Hasilnya, tetap tak banyak yang mampu saya pahami. Selanjutnya, tentu mudah ditebak, paling tinggipun nilai saya di mata kuliah itu adalah C+.

Saya tidak mengatakan pola mengajar dosen saya buruk, tetapi dengan hal seperti demikian, sebagian kami pada waktu itu berkesimpulan bahwa belajar dengan orang yang memang kefilsufannya sudah sampai, itu bukan perkara mudah.

Cerita dan sedikit pengalaman saya belajar dengan dosen filsafat ini, saya rasa harus selalu saya ingat ketika saya mencoba memahami ribuan paparan Rocky, yang merupakan seorang yang pernah belajar ilmu politik serta ilmu filsafat, sekaligus pernah menjadi dosen filsafat di UI.

Jadi, bagi saya, segagal paham apapun si lawan debat Rocky memahami pemaparan Rocky, saya rasa adalah hal yang biasa, karena saya percaya bahwa banyak hal yang telah disampikan Rocky itu adalah berdasarkan dispilin ilmu yang ia anut. Sedangkan yang justru perlu kita telaah dari ucapan seorang Rocky, menurut saya adalah sudut pandang teori yang ia ambil.

BACA JUGA  Guru Bangil Sang Wali Mastur asal Martapura

Hal tersebut, dikarenakan Rocky hanya pernah mencapai pendidikan tertinggi hingga Starata 1 saja.

Kenapa Rocky saya nilai seperti itu? Ini dikarenakan saya ingat kisah dari pengalaman seorang Mantan Ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik (FISIP) ULM Periode 2009-2010, yang kini telah menjadi salah satu dosen muda di FISIP ULM.

Saat ia menempuh studi S2nya di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta dulu, dia pernah bercerita kepada saya, bahwa kuliah politik di program S2 itu ternyata lebih menekankan kepada pendisiplinan teori-teori, sebagai kelanjutan dari studi S1 yang kebanyakannya hanya belajar teori-teori.

Apa yang disampaikan seorang senior saya di atas sesuai pengalamannya belajar S2 di UGM itu, sebut saja dia Pathurrahman Kurnain, karena memang namanya seperit itu, saya rasa sangat berhubungan dengan pemaparan Rocky yang dinilai tak sedikit orang bisa memukau banyak orang itu. Pertanyaan besarnya adalah, apakah semua hal yang disampaikan Rocky dalam segala pemaparannya sebagai narasumber di tv, di seminar-seminar, telah sesuai dengan disiplin teori dari kajian ilmu yang ia anut?

Semoga Om Rocky Gerung selalu sehat dan selalu kuat mendaki gunung. Salam No Rocky No Party! (*)

 

Tags

Tinggalkan Balasan

Close