Berita UtamaFeatures

Mengais Untung di Tengah Tercemarnya Air Sungai Barito

Kisah Seorang Sarjana Komputer Muda yang Mengadu Nasib di Atas Keramba Ikan

DONNY IRWAN, Marabahan – Barito Kuala (Batola)

MENJADI seorang sarjana komputer muda, mungkin bagi banyak orang adalah sebuah gelar yang sangat menggairahkan yang bisa mengantarkannya duduk di meja komputer berjam-jam, dalam ruangan bersih, ber-AC dan tanpa debu. Namun bagi seorang pemuda kelahiran 23 November 1993 ini, berhasil meraih gelar sarjana komputer dari STMIK Indonesia Banjarmasin beberapa tahun silam, tidak serta-merta harus mengantarkannya ke meja komputer.

Dia adalah Rahmatillah, warga Kelurahan Lepasan, Kecamatan Bakumpai, Batola, yang sehari-harinya sibuk memberi pakan untuk ikan-ikannya di keramba ikan apung yang berada di sungai Barito, di belakang rumahnya, yang diadakan oleh Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Batola melalui bantuan Kementerian Perikanan dan Kelautan RI.

Pemuda berusia 25 tahun ini mengungkapkan, usaha keramba ikan apung yang belum dua tahun digelutinya itu adalah sebuah usaha sampingan untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari karena pembagian gaji sebagai tenaga honorer di SMA 1 Bakumpai yang tengah dijalaninya tidak selalu rutin didapatnya setiap bulan.

BACA JUGA  Pelaku Bungkus Kepala Rahmadi dalam Tas Ransel

“Saya menjadi tenaga honorer untuk teknisi laboratorium TIK di SMA 1 Bakumpai, tapi sekaligus menjadi tenaga pendidik untuk mata pelajaran TIK juga. Biasanya gaji saya terlambat dua bulan. Apalgi kalau awal-awal tahun seperti ini, terlambatnya bisa sampai tiga bulanan,” tutur Rahmat kepada koranbanjar.net, Minggu (13/1/2018).

Ia menceritakan, dengan usaha sampingannya tersebut, stres dan rasa capek menghadapi para siswa didiknya di sekolahan akan terasa lebih nyaman ia lewati.

“Kadang stres mengajar mehadapi anak murid hilang begitu saja ketika saya memberi pakan ikan-ikan nila saya di keramba,” ungkapnya.

Namun untuk bisa mengembangkan ribuan bibit ikan nila di dalam keramba hingga menjadi siap jual, Rahmat mengakui, bukanlah perkara mudah. Terlebih  dalam beberapa tahun terakhir ini, tercemarnya lingkungan pada air sungai Barito sering terjadi sebagai dampak dari keberadaan perusahaan kelapa sawit di wilayah Kabupaten Batola.

“Apalagi saat musim hujan seperti ini, air sungai Barito menjadi lebih tercemar akibat air kiriman dari perusahaan sawit yang banyak mengandung obat-obatan bekas pupuk sawit dan lainnya, sehingga keasaman air di sini (sungai Barito) menjadi turun di kisaran 4 smpai 5, tidak sampai 7 pH-nya,” keluhnya.

BACA JUGA  Melihat 'Mata Pilot' Menggerakkan Ratusan Pesawat di Bandara Syamsudin Noor

Menurutnya, kualitas air yang tidak stabil akibat pencemaran lingkungan dari perusahaan sawit akan mengakibatkan kematian bagi ribuan bibit ikan nila milik para pengusaha keramba.

“Sebenarnya ikan bisa saja bertahan di dalam pH air yang rendah, tp bagi ikan yang masih kecil-kecil, ia akan mati. Makanya kalau saya menebar sepuluh ribu bibit ikan nila di keramba, yang berhasil hidup sampai siap jual biasanya paling cuma tiga ribu ekor saja. Itupun sudah untung,” ceritanya.

Meski demikian, diakui pria lajang ini, selama menggeluti usaha keramba apung ikan nila, dirinya tidak pernah mengalami kerugian.

“Semati-matinya ikan, Alhamdulillah saya tidak pernah rugi, tapi paling untungnya saja yang berkurang. Di tiga lubang keramba yang saya usahakan ini paling sedikit untung bersihnya antara Rp 2 sampai Rp 3 juta per lubang dalam sekali panen (tiga sampai empat bulan pemeliharaan ikan). Kalo harganya lagi tinggi, untung bersihnya bisa mencapai Rp 5 sampai Rp 6 juta per lubang sekali panen. Penjualan terakhir pada bulan Desember tadi, Alhamdulillah hasil penjualannya tembus Rp 28 juta. Itu penjualan dari bibit nila yang ditebar dari bulan Agustus, jumlahnya ada 17 ribu bibit, modalnya Rp 15 juta,” katanya.

BACA JUGA  Kisah Penjual Kerupuk Berusia 70 Tahun yang Putus Asa Bertani

Namun walau demikian, Rahmat tetap mengharapkan agar pemerintah terkait, khususnya Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Batola serta Dinas Lingkungan Hidup Batola, agar bisa lebih memperhatikan kondisi lingkungan pada air sungai Barito.

“Saya berharap kepada pemerintah terkait agar pengendalian lingkungan, terutama pengaturan dalam pembuangan limbah perkebunan dari perusahaan kelapa sawit yang mencemari air sungai Barito bisa tegas pengaturannya, sehingga tidak ada lagi pengusaha ikan yang merasakan dampak negatifnya,” harap Rahmat. (dny)

Tags

Tinggalkan Balasan

Close